Diposkan pada Review Film

(Review) Imperfect, Belajar Mencintai Ketidaksempurnaan

91e09e4f-be74-497f-a63a-9c3c8b4a4854
sumber : instagram.com/film_imperfect

Ubah insekyur jadi bersyukur.

Body shaming dan Insecure telah menjadi kata yang sudah biasa terdengar di telinga kita. Bukan hanya mendengar, mungkin kamu juga pernah bahkan sering mengalaminya. Pecah, satu kata buat film karya Ernest yang satu ini! Diadaptasi dari novel karya Meira dengan judul sama, Imperfect bukan hanya sekedar film, tapi juga pelajaran mengenai hidup terutama seorang perempuan dan rasa percaya diri.

Karakter dengan Insecurenya masing-masing

Setiap orang punya insecurenya masing-masing. Rara (Jessica Mila), dilahirkan dengan tubuh gemuk, rambut keriting, dan kulitnya yang sawo matang mengikuti gen ayahnya. Jauh berbeda dengan Lulu (Yasmin Napper), adiknya yang mengikuti gen ibunya (Karina Suwandi) yang dulunya seorang model. Rara merasa insecure dengan dirinya sendiri, ditambah lagi cemoohan yang ia dapatkan di tempat kerjanya. Apalagi, saat dirinya ditawari menjadi manajar oleh Kelvin (Dion Wiyoko) atasannya malah terhalang karena penampilannya yang tidak memadai. Rara dengan tekadnya berusaha untuk kurus dengan diet yang terbilang cukup ekstrim hingga ia jatuh sakit.

Di sisi lain, Lulu si anak emas yang telah dikarunia tubuh yang indah, kulit putih, dan menjalani profesi sebagai selebgram ternyata juga punya rasa insecure. Dari ribuan pujian yang ia dapatkan, terselip cemohoon dan hate speech yang membuat dirinya merasa kurang. Ia masih memikirkan pipinya yang chubby dan komentar buruk netizen tentang dirinya. Belum lagi, ternyata sang ibu diakhir film juga menyimpan insecurenya sendiri yaitu saat dirinya tak bisa lagi menjadi model akibat bekas operasi cecar saat melahirkan Rara.

Begitulah manusia, punya rasa tidak percaya diri yang selalu disembunyikan. Namun, rasa insecure harus dilawan, kan?

Relatable dengan kehidupan sehari-hari

Alur cerita yang tidak membosankan dan mungkin sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Terlihat biasa, tapi selalu menarik untuk diikuti. Cerita sederhana yang mengajarkan kita untuk hidup apa adanya dan menerima diri sendiri.

Kehidupan Rara yang sering dipandang sebelah mata karena penampilannya sudah menjadi hal biasa dikehidupan kita. Terlebih lagi di era media sosial, semua orang ingin menunjukan versi terbaik diri mereka dengan cara apapun. Begitu juga dengan yang dilakukan Lulu yang sering melakukan endorse. Hanya dengan beberapa komentar buruk dari netizen sudah bisa membuat dirinya down.

Bukankah ini merupakan suatu hal yang nyata? Bayangkan, orang yang tak kita kenal berkomentar buruk tentang kita dan itu mempengaruhi kita, bukankah itu suatu hal yang cukup bahaya? Jangankan orang lain, bahkan tempat yang kita anggap sebagai zona aman kita ternyata adalah toxic bagi kita. Seperti inilah yang dirasakan Rara pada awal hingga pertengahan film, merasa dianak tirikan oleh ibunya. Yang selalu menyuruhnya memperhatikan makan dan badan. Ditambah lagi, teman-teman fake seperti Marsha cs saat Rara mendapatkan posisi manajer.

Panjat sosial, salah satu hal yang masih sering dilakukan orang-orang untuk mendapatkan popularitas. Seperti yang dilakukan George (Boy William) seorang selebgram yang tengah naik daun dengan slogannya Work Hard, Stay Humble yang sebenarnya tidak mencerminkan ‘humble’nya. karakter George mencerminkan seolah-olah kita hanya berlagak baik bila berada di depan kamera.

Porsi pemain lain dan perannya masing-masing yang pas

Dika (Reza Rahadian) dan Fey (Shareefa Daanish) bisa dibilang adalah orang-orang impian yang kita inginkan dalam kehidupan nyata. Dika seorang fotografer lepas, pacar Rara yang romantis, perhatian, pengertian, dan humoris telah menjadi paket lengkap dalam kehidupan Rara. Dika menerima Rara dengan apa adanya. Diakhir film diceritakan bahwa Dika jatuh cinta pada pandangan pertama pada Rara dengan kesederhaannya dan kebaikan hatinya saat sedang mengajar anak-anak disebuah kawasan kumuh. Reza yang setahu saya sering mendapatkan peran yang serius dan datar (selain di My Stupid Boss, karena disana Reza mendapatkan peran yang terbilang komedi), cukup humoris di film ini. Dengan lawakan receh dan gombalan-gombalannya cukup membuat penonton tertawa dan terhibur.

Nyari yang cantik itu gampang, nyari yang cocok susah. Kamu udah cantik, cocok lagi. – Dika ke Rara

Fey, sahabat Rara yang tomboy dan selalu memberikan dukungan pada Rara. Yang menemani Rara dari awal hingga puncak karirnya. Bahkan, dirinya sempat terabaikan dan juga merasa insecure saat Rara telah menjadi perempuan yang cantik dan dipandang semua orang. Namun, lagi-lagi yang namanya seorang sahabat tak pernah meninggalkan sahabatnya.

Teman yang baik mengenal kita sesungguhnya. -Fey

Ibu Ratih sebagai ibu Dika (Dewi Irawan) dan geng kost-kostan yang terdiri dari Neti (Kiki Saputri), Maria (Zsazsa Utari), Prita (Aci Resti), dan Endah (Neneng Wulandari) yang selalu menghibur dan mengundang tawa dengan tingkah lucu mereka. Dibalik itu pun, ternyata mereka juga menyimpan rasa insecure masing-masing.

Lalu, ada Teddy (Ernest Prakarsa) sebagai teman Dika yang selalu membantunya dalam mencari job. Yang saya suka dari film ini adalah, cara Ko Ernest menceritakan tentang keberagamaan dengan santai dibalut dalam komedi.

Anak-anak asuhan Rara yang masih polos dan apaadanya. Membuktikan bahwa, masih banyak anak-anak yang perlu guru-guru seperti Rara dan layak mendapatkan pendidikan yang sewajarnya.

Pesan-pesan tersembunyi, yang mungkin tak kamu sadari

Banyak hal yang bisa kita pelajari di film ini. Diselipkan berbagi quotes yang menghangat hati dan berkesan. Inti dari film ini yang bisa Saya ambil adalah bahwa manusia itu diciptakan beragam dengan keunikannya masing-masing. Perempuan yang sering merasakan insecure harus menyadari bahwa dirinya berharga dibalik ketidaksempurnaanya. Mencintai diri sendiri adalah hal penting dalam hidup ini.

Soundtrack yang memorable

Fiersa Besari dengan lagu Pelukku untuk Pelikmu menjadi original soundtrack untuk film ini. Sebelum film ini naik layar, lagunya telah populer terlebih dahulu. Dengan lirik yang menyentuh, sangat pas mengisi film ini. Beberapa soundtrack lain seperti lagu Cerminan Hati milik Audrey Tapiheru hingga lagu Tak Harus Sempurna yang dinyanyikan langsung oleh Reza Rahardian.

Overall, film karya Ernest ini berada diurutan kedua yang Saya suka

Sebelumnya sukses dengan Milly Mamet, film Ernest memang selalu memberikan kesan tersendiri dengan ciri khas ceritanya yang selalu melibatkan keluarga dan kehidupan pribadi dalam filmnya.

Menurut saya, kekurangan di film ini cukup tidak terlihat dan mulus. Sukses memainkan emosi penonton dari bahagia tiba-tiba sedih hingga tertawa lepas karena kerecehan yang dilontarkan pemain. Sayangnya di film ini terdapat iklan yang terlihat seperti dipaksakan (cari tahu sendiri). Setiap film pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, untuk itu Saya memohon maaf bila dalam review ini masih kurang detail dan mendalam.

124f865b-476a-4626-bd39-534b5cc6b148
sumber : http://www.instagram.com/film_imperfect

See you on the next review! Thanks for reading.

Penulis:

Seorang penulis amatiran yang menuangkan perasaannya dalam bentuk kata-kata yang sengaja dibuat untuk kamu sang penikmat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s